Realita Di Negeriku.

Negeriku adalah sumber kekayaan alami maupun hayati, tetapi juga sumber penderitaan untuk rakyat sendiri, hingga air dan tanah pun masih harus beli. Apalagi ditambah kekayaan para pejabat dan para petinggi yang masih gila korupsi, hingga di hari ini menjadi budaya yang teramat mahal harganya di tanah Ibu Pertiwi.

Memaksa kami menjadi Turis di Negeri sendiri, terasingkan dengan segala kemewahan akibat sulitnya lapangan pekerjaan.

Negeriku adalah lambang demokrasi, namun tak jarang yang masih bisa toleransi. Mencaci maki, nyinyir, menggunjing sana-sini, hingga butanya keberagaman di Negeri sendiri.

“Tongkat kayu, dan batu jadi tanaman” kata sebuah lagu yang legendaris itu yang mencerminkan betapa suburnya Tanah di Negeriku ini. Tak khayal karena teramat suburnya tanah di Negriku, sawah dan kebunku tidak hanya menumbuhkan padi, jagung dan umbi-umbian tetapi juga pabrik-pabrik, gedung mewah pencakar langit.

Negeriku adalah Negeri yang aman, pihak berwajib dan penegak hukum masih banyak yang bermain aman atas dasar pengayoman. Menekan yang lemah, melindungi yang serakah. Tak jarang yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Dengan mudahya merubah tempat pengekang menjadi Hotel berbintang. Robot atau boneka sama saja, karena uang adalah bahasa kalbu yang dapat menerobos jalan-jalan buntu dan berakhir pada urusan tebal-tipisnya kantong saku.

Sampai kapan semua akan bertahan
Dicaci langit tak sanggup menjerit
Hitam awan pasrah kau jilati
Kusam kau dekap dengan muak kau lelap
Pagi yang hingar dengan sadar engkau gentar.

Iklan

Selamat Tinggal Yaa, Ramadhan

Oh Tuhan,Ramadhan kali ini terasa cepat sekali. Meninggalakan hari-hari yang mulai banyak dicandu. Oh Tuhan, mengapa Ramadhan kali ini Sepi dan sedihnya sampai ke dalam tulang.

Oh Tuhan, mengapa kau ambil Ramadhan dari kami, padahal hati ini masih teramat rindu. Oh Tuhan, hari-hariku kian tenang, ketika ia pergi akankah kembali rasakan dendam.

Oh Tuhan, tolong tetap jagalah kami dari kehilafan karena telah terlatinya kami selama sebulan penuh berpuasa, menahan haus, menahan lapar, mengendalikan nafsu hasutan setan. Berlomba-lomba Punguti pahala yang bertebaran Dirahim Ramadhan.

Akhirnya tiba hari kemenangan, dari pelosok-pelosok desa yang sepi hingga keramaian kota, terdengar saut-sautan Takbir yang menabuh gendang telinga yang datang silih bergantian.

Selamat tinggal yaa, Ramadhan bulan suci penuh keberkahan. Datanglah kembali kepada kami dan ketuklah hati yang liar.

Hamba, menghamba pada hamba

Hamba mencari hidup dalam kehidupan

Dibentuk oleh angan dan dibenturkan keinginan.

Tak tentu arah, tak tentu peran

Harapan menjadi sandaran, pada manusia aku ber-Tuhan.

Berlindung dibalik keadaan, dengan menafikkan kenyataan.

Lebih menaruh harap kepada seorang hamba, seolah lupa bahwa seorang hamba pastilah ber-Tuhan pada Tuhan yang satu.

Dihadapan sesama hamba, hambapun terlihat begitu lugu dan dapat dengan mudah ditipu.

Hamba coba mencari jalan yang satu hingga hamba temui jalan yang buntu, akhirnya… hati keras membatu di sela tebalnya debu.

Cela apa, nista apa yang membuat hamba, menghamba pada seorang hamba.

Hamba di hadapkan pada retorika yang maha benar, hingga mengabaikan kuasa-Nya yang begitu besar.

Hamba mencari terang dalam gelap, Izinkan hamba mencapai keridhaan maaf-Mu, Tuhan!.

Intelktual dan gerakan kader PMII Rayon FTIK di Tahun “Politik”

Sejak pada tanggal 17 April 1960, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Dewasa ini PMII tumbuh dan berkembang menunjukkan eksistensi melalui berbagai kegiatan yang positif dan melibatkan khalayak umum. Kegiatan seperti pelatihan-pelatihan terhadap kader, seminar, diskusi publik, dan jejak pendapat semuanya hampir dilaksanakan oleh Pengurus Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember. Berbagai kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan bekal kepada kader tentang pentingnya berbagai disiplin keilmuan dan pengetahuan serta pembelajaran tentang pengambilan solusi permasalahan. Adapun tema aktual yang diambil antara lain berkenaan isu KKN, pembelaan kaum mustad’afin, pelanggaran HAM, isu perempuan, penyalahgunaan wewenang, penyelewengan dana, kebijakan pemerintah, dan lainnya. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah setiap kegiatan hendaknya mampu di follow up dengan baik, jadi kegiatan tidak hanya formalitas belaka, apalagi hanya mengejar pelaksanaan proker. Sesuai bunyi pasal 4 AD/ART PMII bahwa tujuan PMII adalah “terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, serta cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”. Demikian luhur dan agung tujuan dan cita-cita organisasi PMII, namun tujuan berat PMII sangat mustahil tercapai bila tidak diimbangi oleh kualitas individu yang handal dan matang. Sebuah ironi ketika seorang individu harus memperjuangkan suatu hal yang besar dan berat, ketika belum memiliki bekal analisis dan identitas diri yang tepat, apalagi bagi kader-kader pemula. Hal tersebut yang mungkin dapat penulis rasakan dari kader-kader PMII Rayon FTIK, meski tidak secara keseluruhan demikian, namun di hari ini banyak kader-kader PMII yang lebih menyukai terjun ke ranah politik, khususnya bagi kader-kader pemula yang sekarang kurang-lebih sudah memasuki usia ke-6 bulan selepas MAPABA (masa Penerimaan Anggota Baru). Seharusnya bagi kader yang sudah dikatakan senior atau Pengurus Rayon, mampu mengarahkan kader-kader yang masih pemula utamanya untuk tidak bergelut dalam ranah politik terlebih dahulu. Namu seharusnya asupan literasi serta pengembangan wawasanlah yang mula-mula harus diberikan atau ditanamkan kepada seorang kader pemula. Di hari ini karena memang bertepatan dengan hangatnya “tahun politik”, perbincangan berbau politik, khususnya politik-politik praktis sering penulis dengar. Tak peduli di warung kopi yang wajarnya hanya sekedar tempat nongkrong, rayon, kampus, bahkan dikalangan masyarakat. Yang lebih tragis ketika seorang kader-kader pemula, terjun kedalamnya dan mengambil tupoksi dalam ranah politik. Kekhawatiran akan minimnya potensi yang seharusnya mulai dipupuk sejak awal, selepas pembaitan di MAPABA. Penekanan terhadap nalisis sosial (Ansos) yang selalu diserukan, namum dalam analisis diri (Andir) kerap kali terlewatkan bahkan dilupakan. Tak ada larangan bagi kader PMII untuk menggeluti “dunia politik” namun alangkah lebih baik, pemberian asupan keintelektualanlah ataupun kesadaran pentingnya basis pengetahuan yang seharusnya dimiliki kader PMII, khususnya untuk kader-kader pemula dari senior-senior dan pengurus Rayon itu sendiri.

U

Keramik Masjid Yang Malang

Aku adalah keramik masjid yang malang, aku selalu merasa kesepian di selah ramainya jama’ah masjid. Aku selalu merasa iri dengan kawan-kawanku, karena keberadaanku selalu ada di deretan belakang yang tak pernah merasakan hangatnya pelukan tikar panjang yang dihamparkan para takmir-takmir masjid. Berbeda dengan kawanku yang berada di deretan terdepan yang selalu merasakan kehangatannya, dan akupun dibiarkan menggigil begitu saja oleh tetesan air wudhu yang jatuh dari kaki-kaki, tangan, dan wajah para jamaah yang itu menerpa tubuhku.

Aku semakin merasa iri saat tiba waktu masuk shalat yang pada saat itu para jamaah mulai berdatangan ke masjid, dan akupun tidak pernah diperebutkan sebagai tempat jamaah berdiri dan bersujud ke hadirat Ilahi Rabbi, sebagaimana kawan-kawanku yang berada di deretan terdepan yang selalu diperebutkan jamaah masjid.

Aku sesekali pernah merasakan kehangatan pelukan sajadah para jamaah masjid pada saat waktu tertentu, saat shalat jum’at, shalat tarawih, ataupun shalat Id pada hari raya umat Islam. Aku ingin hadirku tidak hanya menjadi tempat lalu-lalang para jamaah di dalam masjid, tempat jamaah sekedar beristirahat. Tapi aku juga ingin merasakan jidat basah yang di guyur air wudhu dari para jamaah masjid.

Itu semua ingin aku rasakan tidak hanya pada hari-hari tertentu atau di hari Raya umat Islam, tetapi aku ingin merasakan semua itu di setiap harinya, di buru setiap setiap masuk waktu shalat. Akupun ingin masjid itu ramai agar aku juga tau rasanya diperebutkan oleh jamaah masjid.